Ide Dibangun, Bukan Dicari
Saya termasuk orang yang kurang sepakat jika ide itu ‘dicari’, karena ide itu ‘mendatangi’ kita dan bukan kita ‘menemukannya’. Saya lebih setuju jika ide itu ‘dibangun’. Tetapi ketika ‘membangunnya’, kita sendiri belum tahu wujud ide itu sendiri pada akhirnya akan seperti apa, hingga ide itu kita dapatkan.
Menurut saya, ide merupakan bagian dari rahasia Allah swt. yang dilimpahkan kepada kita. Jika para Nabi dan Rasul mendapatkan wahyu, maka kita yang ‘orang biasa’ juga mendapatkan ‘wahyu’, yakni berupa ilham. Sementara ide hanyalah bagian kecil dari ilham. Karena itu, sebagaimana wahyu, ide juga datangnya tidak bisa kita perkirakan. Ia datang tanpa disangka-sangka. Ide datang seperti letupan, percikan (eureka!!) yang mampu membuat kita bisa menulis sesuatu lebih dari yang kita bayangkan.
Jadi, apa yang kita lakukan selama ini sebelum ide itu sendiri datang hanyalah sebatas mengumpulkan bahan — yang kita sebut ‘mencari ide’ itu — baik dari membaca, mendengar, melihat peristiwa di sekitar kita atau yang kita alami sendiri, mengingat kembali, dan sebagainya. Tetapi saya meyakini, bahwa tanpa bahan yang memadai, ide akan sulit memercik dan memantik diri kita. Karena menurut saya, jatuhnya ide tak jauh dari bahan yang sudah kita miliki. Jika bahan ibaratnya tumpukan daun kering, maka ide adalah pemantik api yang membakar tumpukan itu sedemikian rupa.
Jika ide itu bisa ‘dicari’, tentu orang yang sudah memiliki bahan yang cukup pasti akan mendapatkannya. Tetapi pada kenyataannya, banyak orang yang sebenarnya sudah memiliki ‘perlengkapan perang’ yang memadai, tetapi tak juga kunjung mendapatkan ide. Buntu. Mentok. Bengong. Seperti ayam kelenger di lumbung padi.
Mengumpulkan bahan itulah, dengan cara apa saja, yang saya sebut sebagai ‘membangun’ ide.
Dalam dunia tulis-menulis, saya ‘membangun ide’ melalui catatan harian elektronik, berupa file dokumen yang tersimpan di komputer. Intisari dari segala yang saya dengar, baca, lihat, alami, dan ingat kembali, saya catat ke dalam e-cathar itu dalam urutan kronologis. Meski hanya satu kalimat kutipan sekalipun.
Saya sering menganalogikan pengumpulan bahan untuk tulisan itu dengan berbagai aktivitas di atas ibaratnya mengisi otak kita layaknya mengisi sebuah ceret dengan air. Ketika ceret itu penuh, maka tinggal menunggu waktu saja hingga air di dalam ceret itu akan tumpah. Demikian juga otak kita. Jika sudah penuh dengan informasi, maka tinggal menunggu waktu saja hingga ketika ide itu datang memercik, maka tumpahlah bahan-bahan yang telah kita kumpulkan itu dan mengalir menganak sungai menjadi sebuah tulisan yang terangkai.
Demikian juga dengan e-cathar. Dari berbilang baris catatan itulah, secara menakjubkan, mereka akan terhubung satu demi satu dalam jalinan rumit otak kita, sehingga tak jarang ketika percikan ide lalu mendarat, maka seperti secara otomatis sebuah hubungan antarcatatan terhimpun mengikuti ide yang kita dapatkan. Jadilah sebuah tulisan yang terjalin runtut dan indah. Beberapa tulisan saya di Oase Iman eramuslim.com tercipta dengan cara ini.
Oleh karena itu saya sepakat dengan Mas Hernowo, penulis buku Mengikat Makna dan buku-buku yang melejitkan potensi diri lainnya, bahwa aktivitas membaca (dalam konteks ini mengisi dan mengumpulkan bahan untuk tulisan kita) dan menulis adalah pasangan yang tak terpisahkan. Diantara keduanya terletak kekuatan ide. Semakin banyak membaca cenderung akan semakin banyak melahirkan tulisan-tulisan. Hal demikian itulah yang juga dikatakan Paman Lu, salah seorang tokoh dalam novel Snow Flower karya Lisa See, yang senantiasa saya ingat, “Bacalah seribu buku, maka kata-kata akan mengalir seperti sungai.”
Kalau saya amati, ketika saya rajin mengisi e-cathar itu, ide yang memercik lebih deras ketimbang jika saya malas meng-update-nya. Oleh karena itu saya katakan, ide itu harus ‘dibangun’ dengan penyiapan bahan yang memadai. Tanpa itu, jangan harap bisa mendapatkan ide, karena ia tak akan ketemu meski Anda ‘cari’ setengah mati.
***
This post has 4 comments
June 25th, 2009
mmm….iya juga ya, selama ini saya ( yang sedang belajar menulis ) justru terlalu sibuk ‘mencari-cari’ ide, bagaimana saya bisa ‘bertemu’ lah wong bahan-bahan yang saya miliki sangat minim….
Matur nuwun untuk kesekian kalinya Pak, lagi-lagi Pak Bahtiar membangunkan saya dari mimpi menulis, mudah-mudahan di alam nyata ini, saya benar-benar menulis apa yang selama ini akrab di alam angan saya. semoga….
June 26th, 2009
Mas Muhammad. Kelihatannya ada hukum kausalitas di banyak hal. Ada sebab, ada akibat. Banyak membaca, banyak menulis. Gak pernah membaca, jarang menulis. Banyak sedekah, banyak rezeki. Gak pernah sedekah, jangan harap rezeki lancar.
Keep writing, Mas!
June 25th, 2009
membaca… membaca… membaca… dan membaca blog ini membuat saya makin semangat aja deh buat menulis di blog saya
a bunch of thanks jazakallah khairan katsiran tengkyu ferymac ya pak bahtiar… mohon mampir ke blog saya jugah
regards,
dhz.thekupu
pontianak-kalbar
June 26th, 2009
Menulis membuat kita lebih mudah memahami apa yang kita baca. Bukan begitu, Dinie? Kulihat blogmu rame banget. Penuh kupu-kupu
Terus menulis, ya? Jazakillah khairan tlah terdampar di sini.
Btw, salah satu kota yang belum kujejakkan kaki di Kalimantan adalah Pontianak. Yg udah: Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, Kandangan, Barabai, Tanjung, Balikpapan, Samarinda, dan Tarakan. InsyaAllah Pontianak dan Palangkaraya, suatu saat.