Menemukan Kunci, Menemukan Gaya
Pada mulanya saya membaca “Ketika Mas Gagah Pergi” karya Mbak Helvy Tiana Rosa. Saya lalu tertarik menulis cerita islami seperti cerpen itu. Muncullah karya cerpen-cerpen awal saya (Anda bisa membacanya di antologi “Suatu Petang di Kafe Kuningan”, “Merah di Jenin”, dan “Cahaya di Lorong Purnama”).
Ketika kemudian mulai membaca novel, maka saya langsung kesengsem dengan karya-karya Erich Segal, seperti “Love Story”, “Oliver’ Story”, “The Doctors” (favorit saya), “Man, Woman, and Child”, “Nobel Prizes”, “The Class”. Bahasanya “indah”, kadang lucu, membuat kita tersenyum. Seolah kita menertawai diri kita sendiri. Cerpen-cerpen saya, atau kemudian tulisan-tulisan saya yang non-fiksi sekalipun, sering terinspirasi gaya bercerita Erich. Termasuk novelet-novelet yang pernah saya tulis, seperti “Perseteruan Dua Bintang” (cerita anak, masuk 6 besar lomba penulisan fiksi di Depag 2002), “Rahasia Sasongko” (diikutkan ke lomba cerbung Femina, tetapi tentu saja tidak lolos :)), dan Serial dokter Pit yang sudah 23 bab tetapi tidak pernah saya publish karena nggak pede.
Jauh sebelumnya, sejak mahasiswa, saya suka dengan gaya Goenawan Muhammad dalam Catatan Pinggirnya. Tulisan-tulisan mading saya di kampus banyak “meniru” GM. Hanya teman-teman saya di kampus bilang, “Tulisanmu bagus, tetapi tidak bisa dimengerti.” He he he.
Saya bersyukur bahwa pencarian saya terhadap gaya menulis saya berlangsung alamiah saja. Mengalir. Dan saya merasakan kian hari proses itu membawa saya pada gaya menulis yang saya rasa pas dan semakin pas buat saya. Saya juga tak pernah merasakan kebingungan di awal ketika saya menulis tentang gaya tulisan saya. Ini barangkali untungnya menulis dari belajar secara otodidak, tidak berangkat dari disiplin ilmu menulis yang didapat dari kuliah. Hambatan menulis semacam aturan, tata kalimat, EYD, bentuk tulisan, dan seabrek teori kepenulisan lainnya hampir-hampir tak membuat saya risau atau dirisaukan.
Mungkin beda dengan teman-teman yang berangkat dari teori, yang kadang-kadang malah terjebak pada teori tetapi tidak segera praktek menulis. Mereka bahkan kadang-kadang sudah mempermasalahkan gaya menulisnya sebelum menulis, dan kadang takut menjiplak gaya menulis seseorang. Buat saya, apa salahnya? Bukankah kita makhluk peniru? Di awal menulis, kita pastilah meniru gaya menulis seseorang. Saya kok yakin seperti itu. Tidak ada yang benar-benar memulai dari sesuatu yang baru. Semua menganut “Copy the Master”. Tetapi jangan berhenti, melainkan teruslah menemukan gaya menulismu sendiri. Dan kesempatan itu sangat terbuka luas.
Saya setuju dengan Chloe Anthony Wofford atau kita kenal dengan Toni Morison, ketika suatu saat ia menyatakan,
Kamu harus menemukan sebuah kunci, sebuah petunjuk untuk mendapatkan gaya menulismu sendiri. Sebab, yang kamu miliki hanya dua puluh enam huruf dalam abjad itu, beberapa tanda baca, dan beberapa kertas.
Bagaimana dengan Anda?
***
Keterangan.
Sumber tulisan: dari Rumah Konten saya dengan judul yang sama.
Sumber gambar: http://www.africanexecutive.com
This post has one comment
July 6th, 2009
apa dan bagaiamana gaya menulis saya, bahkan saya sendiri belum menyadarinya,( bagaiamana saya bisa tahu, lah wong menulispun belum, setiap kali ingin menulis, selalu saja terhenti di awal kalimat. ah….menulis memang tidak mudah ya, lebih mudah membaca dan memberikan komentar…)